Manajemen Krisis
Pengertian Definisi Dan Teori Manajemen Krisis
Ada perbedaan yang mendasar antara “Manajemen
Krisis” dan “Krisis Manajemen”. Manajemen krisis merupakan suatu manajemen
pengelolaan, penanggulangan atau pengendalian krisis hingga pemulihan citra
perusahaan. Sedangkan krisis manajemen merupakan kegagalan dari peranan
manajemen krisis dan persoalannya menjadi sulit untuk dipulihkan karena
perusahaan yang bersangkutan dinyatakan “bubar” baik secara hukum maupun
operasionalnya.
Pada umumnya, krisis dilihat sebagai suatu
situasi atau kejadian yang lebih banyak mempunyai implikasi negatif pada
organisasi daripada sebaliknya.
Penyebab Krisis
Mengenali jenis atau tipe krisis penting mengingat masalah penentuan siapa
yang bersalah dan respon yang harus dibuat perusahaan yang sedang menghadapi
krisis. Berikut ini adalah beberapa tipe krisis yang dikemukakan para pakar
menggunakan berbagai dimensi (Putra, 1999:90-94):
- Sturges
dkk
- Dimensi
violent-non violent dan dimensi sengaja-tak sengaja.
- Shrivastava
& Mitroff
- Dimensi
kerusakan yang dihasilkan (berat/ringan) dan dimensi penyebab krisis dari
segi teknis dan sosial.
- Marcus
& Goodman
- Dimensi
tingkat kemungkinan ditolak dan berdasarkan keadaan korban krisis.
- C.G.
Linke
- Dimensi waktu kemunculan sebuah
krisis.
HUBUNGAN
ANTARA ISSUE, OPINI PUBLIK DAN KRISIS
Di bahasan
sebelumnya, kita membaca bahwa salah satu peristiwa yang berpotensi menjadi
krisis adalah opini publik yang kurang menguntungkan. Sebelum kita melihat
hubungan hubungan antara issue, opini publik dan krisis, tentu saja kita harus
mengetahui apa yang dimaksud dengan opini publik (setelah kita mengetahui
pengertian issue dan krisis).
Menurut Scott Cutlip, Allen Center & Glen Broom,
opini publik “mencerminkan sebuah konsensus, yang muncul setelah
beberapa saat, dari seluruh pandangan yang ditujukan terhadap suatu
permasalahan dalam diskusi, dan konsensus tersebut memiliki kekuatan”.
Opini publik bekerja dalam dua cara, yaitu sebagai
sebab dan sekaligus sebagai akibat dari kegiatan PR. Opini publik yang dipegang
teguh akan mempengaruhi keputusan manajemen. Sebaliknya, tujuan program PR
adalah untuk mempengaruhi opini publik.
Sebagian besar masyarakat memiliki opini terhadap berbagai hal. Dan bila
opini mereka digabungkan serta difokuskan oleh media massa, maka opini
perorangan atau kelompok tersebut dapat menjadi sebuah opini publik. Media
tidak mendikte apa yang masyarakat pikirkan, namun mereka menyediakan sarana
untuk membahas permasalahan-permasalahan dan memperkuat pandangan ‘publik’ jika
suatu masalah menjadi sorotan.



Komentar
Posting Komentar